Wednesday, October 11, 2006

PDP alat SBY?

Melihat kekinian yang terjadi di Indonesia, kawan-kawan PDI Perjuangan melihat bahwa pada saat ini hanya PDI Perjuangan-lah yang masih bisa bertahan dari gempuran SBY-JK. Bila kita lihat kawan PKB misalnya, mereka dibelah-belah oleh pihak istana dengan cara membuat PKB kubu Alwi Shihab - Gus Ipul. Hal itu tentunya memaksa Gus Dur untuk bermanis-manis dengan SBY di istana sampai merelakan anaknya Yenny, yang memang manis itu, untuk menjadi staf ahli SBY. Tetapi, kalau soal ini, mungkin memang Yenny yang mau sepertinya.

Hal yang menarik adalah kami melihat SBY juga menggunakan Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) untuk menghantam PDI Perjuangan. Lihat saja dari cara media-media mengadu domba PDP dengan PDI Perjuangan. Lihat pula cara Roy BB Janis dan dr. Susilo mengompor-ngompori PDI Perjuangan dengan cara mengadakan 'show of force' di dekat kediaman Megawati.

Mari kita lihat fakta berikut ini, PDP berisi orang-orang yang bermasalah dengan hukum. Contoh paling nyata, ya Laksamana Sukardi. Santer terdengar bahwa Laks akan segera 'dibantai' begitu PDI Perjuangan tidak lagi berkuasa. Kabar ini terdengar dari kawan-kawan tentara, Partai Demokrat, maupun kawan-kawan PKS. Tetapi lucunya, setelah sempat di-gas di awal masa rezim SBY, kasus Laksaman lenyap bagai ditelan bumi.

Maka bertanya-tanyalah kami, ada apa gerangan ini? Apakah Laks sudah menyetor ke Cikeas? Atau ada hal lain? Kemungkinan yang cukup besar adalah Laks sengaja mendanai PDP untuk menghajar PDI Perjuangan sebagai barter dari ditutupnya kasus dia. Sebenarnya, kami cukup kasihan dengan Laks. Tetapi, mengingat Laks sudah membuat buruk citra PDI Perjuangan dengan tingkah lakunya, dan kemudian MENIKAM PDI Perjuangan dari belakang, nampaknya Laks pantas dinobatkan sebagai brutus abad ini. Bayangkan, dari hasil dagangannya, Laks sudah dapat membeli rumah mewah di London, tentunya dengan membuat rusak citra PDI Perjuangan, kemudian dia menikam PDI Perjuangan. Sungguh teganya!

Belum lagi Novi dan Roy, banyak kalangan di PDI Perjuangan mengatakan Novi seorang membawa kabur dana partai dalam jumlah yang amat sangat besar. Padahal, Novi dan Roy dengan terang-terangan berkampanye untuk SBY. Mungkin Novi dan Roy memang 'ngebet' menjadi menteri.

Bagaimana dengan dr. Susilo, wah, setali tiga uang. Tanya kepada mereka yang 'dipaksa' menyumbang oleh Roy BB Janis kepada dr Susilo, TIDAK PERNAH ADA PERTANGGUNG JAWABAN! Sebenarnya untung juga dr. Susilo kembali ke haribaan tuannya tersebut. Moga-moga sukses dengan khitanan massalnya, mas!

Belum lagi Sukowaluyo Mintorahadjo, Suko Sudarso, Joyowinoto dan lain-lain eks kader PDI Perjuangan yang kemudian menyebrang ke SBY. Mereka semua mengambil keuntungan dari PDI Perjuangan dan kemudian meninggalkannya begitu saja.

Contoh paling nyata adalah Heru Lelono, ambil untung besar dari PDI Perjuangan, kemudian balik menusuk PDI Perjuangan dari belakang!

Ya Allah, hindarkanlah kami dari api neraka! Hindarkanlah kami dari mereka orang-orang yang zalim!

PDP : Duri Dalam Daging

Satu hal yang kami ingin komentari mengenai Partai Demokrasi Pembaruan (PDP): PDP tidak lebih dari sekedar barisan sakit hati kader-kader PDI Perjuangan yang terlalu banyak uang. Tetapi yang menarik, kami melihat ada hubungan antara 'banyak uang' dengan sepak terjang PDP. Mau tahu kenapa?

Coba kita lihat susunan pengurus PDP, disana bertebaran nama-nama seperti Arifin Panigoro, Laksamana Sukardi, Roy BB Janis, Sukowaluyo Mintorahardjo, Pius Lustrilanang dan lain-lain. Hari ini, mari kita fokus pada Laksamana Sukardi, Noviantika Nasution, dan Pius Lustrilanang.

Siapa tidak kenal dengan Laksamana Sukardi? Jaman rezim Megawati, Laks terkenal dengan tindakan-tindakannya yang kontroversial seperti penjualan Indosat dan penjualan VLCC (very large crude carrier) milik Pertamina. Tindakan tersebut membawa kemarahan masyarakat dan kemudian 'ditumpangi' oleh kawan-kawan yang pada saat itu ingin mengambil alih kekuasaan. Ambil contoh Marwan Batubara. Kader PKS yang satu ini tentunya naik daun ketika menghantam Laks/PDI Perjuangan terhadap penualan Indosat. Ingat, yang dihantam tidak hanya Laks, tetapi juga PDI Perjuangan.

Bagaimana dengan mbak Novi dan Pius. Yang jelas, mbak Novi-lah yang membiayai Brigade Siaga Satu-nya Pius. Yang menarik tentang Pius adalah: kawan kita yang satu inilah, bersama-sama dengan Brigade Siaga Satu, yang tertangkap basah oleh polisi membawa ratusan senjata tajam di Gilimanuk pada saat kongres PDI Perjuangan tahun 2005 yang lalu. Pada saat itu memang, seluruh media pro pada gerakan pembaruan. Hebat memang, Pius yang membawa senjata-senjata tersebut, tetapi dikaburkan oleh media seakan-akan Satgas PDI Perjuangan Pro Mega lah yang membawanya. Belum lagi kasus rencana penculikan yang akan dilakukan Brigade Siaga Satu terhadap aktivis-aktivis muda yang baru saja bergabung di PDI Perjuangan pada saat yang sama. Bagaimana dengan mbak Novi? Seluruh kader PDI Perjuangan tahu, walaupun Novi dan Roy tergabung di Mega Center, tetapi mereka BERKAMPANYE UNTUK SBY!!!!! Novi yang mengeruk keuntungan pada saat PDI Perjuangan berkuasa menusuk dari belakang dengan berkampanye untuk orang yang dahulu ikut merencanakan penyerbuan 27 Juli 1996.

Kesimpulannya, orang-orang yang tergabung dalam PDP adalah duri dalam daging. Pada saat mereka keluar dari PDI Perjuangan, sebenarnya kita semua harus mengucap: ALHAMDULILLAH. Mengapa, karena ibarat detoks, ibarat mengeluarkan toksin dari tubuh, keluarnya orang-orang yang telah menjual aset-aset negara, orang-orang yang pro kekerasan, dan tukang tusuk dari belakang dari Moncong Putih adalah suatu hal yang BAIK!!!!

ALHAMDULILLAH

Thursday, June 15, 2006

Jawaban Terhadap Kritik (alm) Harry Roesli

Golputers, pertama-tama perlu dijelaskan bahwa (alm) Harry Roesli adalah pengkritik setia PDI Perjuangan. Bagi sebuah organisasi, kritik adalah vitamin. Tulisan ini mohon dianggap sebagai penghormatan terhadap almarhum.


Harry Roesli 'meledek' bahwa PDI Perjuangan menggunakan semboyan yang sangat mantap ini karena sebenarnya sudah tidak ada lagi yang laik dijual. Sebuah kritik pedas yang amat enak ditelan menggunakan ikan jambal dan nasi liwet.


Mari kita renungkan kritik dari si akang. Apakah benar sudah tidak ada yang laik dijual dari PDI Perjuangan?


Mari kita lihat beberapa fakta yang ada di lapangan:


Pertama, saat ini PDI Perjuangan adalah salah satu dari dua partai yang memiliki banyak anggota yang berasal dari aktivis mahasiswa (yang lain adalah sahabat PKS). Repdem atau Relawan Perjuangan untuk Demokrasi adalah tempat berkumpul aktivis dan mantan aktivis mahasiswa.


Kedua, saat ini PDI Perjuangan adalah salah satu dari dua partai yang memiliki badan penanggulangan bencana yang aktif (yang lain, lagi-lagi, adalah sahabat PKS). Badan tersebut bernama Baguna atau Badan Penanggulangan Bencana.


Ketiga, setelah dibantai secara habis-habisan oleh proponen Orde Baru dan Orde Baru Jilid II, PDI Perjuangan masih mendapat 18,5% suara pemilih dalam Pemilu 2004, lebih kurang 100 kursi di Parlemen, serta Ketua Umum kita mendapatkan 40% suara pemilih dalam Pilpres 2004 (harap diingat bahwa KPU pada saat itu dipimpin oleh Hamid Awalludin, kroni Orde Baru Jilid II yang diselamatkan pantatnya dari kasus korupsi KPU langsung oleh Daeng Kalla).


Keempat, pada posisi sebagai oposisi pemerintah, calon kepala daerah dari PDI Perjuangan-lah yang paling banyak dipilih oleh pemilih.


Kelima, saat ini, PDI Perjuangan memiliki anggota-anggota intelektual dan aktivis muda yang memberikan warna baru di partai.



Jadi golputers, jangan-lah berkecil hati! 2009, menang, menang, menang!!!! 2009, menang, menang, menang!!!!!

Kritik Bagi 'Moncong Putih'

MONCONG PUTIH

Harry Roesli (almarhum -red)

Bezog Maskavili Broyvak, Medoravinian esbros melabrani
kroabrazi miakila. Bastania endroz dobros, glokumaniv
briandi!

Anda mengerti maksud kalimat di atas Kalau tidak, ini
terjemahannya: "Sidang pembaca! Sudah tahu kalimat ini
tidak ada artinya, eh .. masih dibaca juga!"

Nah, guyonan kuno di atas sebenarnya sedang terjadi secara
faktual - saat ini - di negeri ini. Maksudnya? Lho!
bukankah para jurkam saat ini sedang giat-giatnya mengoceh
guyonan yang tidak dimengerti rakyat dan kuno sekali
kalimat-kalimatnya?

Guyonan? Ya, guyonlah kalau kalimat antikorupsi dan
anti-KKN diucapkan oleh jurkam dari sebuah partai (di Jawa
Barat) yang malahan kasus korupsinya si jurkam sedang
diproses di kejaksaan setempat.

Kuno? Ya, kunolah kalau orasi si jurkam itu dibuat oleh
dia sejak tahun 1999 tanpa perubahan titik maupun komanya.
Dia cukup mengambil stok orasi kampanye tahun 1999 lalu
dibacakan "letterijk". Makanya, tidak heran kalau dia
melakukan sesuatu yang fatal, begini: "Saudara-saudara
sekalian! Hari ini Selasa tanggal sekian, tahun 1999,
adalah hari bangkitnya partai kita.. dan seterusnya.."

Padahal, hari jurkam tadi berkampanye adalah hari Rabu,
tanggal segitu, tahun 2004. Tapi anehnya, konstituennya
tidak peduli akan kesalahan fatal tadi. Mereka semua
asyik-asyik saja karena ternyata yang ditunggu bukan
jurkam, tetapi jurdut, bujur penyanyi dangdut (pantat
penyanyi dangdut)

Kalau toh harus jujur, ada guyonan yang saya tulis di
tahun 1999 dan rasanya masih relevan.

Begini guyonannya!

Ada seorang jurkam sedang berorasi dengan semangat yang
melimpah-ruah! Dia bilang: "Saudara-saudara! Kalau di
kampung ini semua mencoblos gambar partai saya, akan
saya bangun pabrik baja di kampung ini!"

Semua rakyat senang dan bertepuk tangan riuh-rendah
bahkan riuh-tinggi!

"Kalau di kampung ini semua memilih saya sebagai anggota
legislatif, akan saya bangun pabrik mobil di sini!"

Plok! plok! plok, tepuk tangan pun bergema lebih keras
lagi dan ditimpali suit-suitan yang menambah ramai
suasana.

"Nah, kalau Anda semua loyal kepada saya dan partai saya,
maka segera akan saya bangun di sini sebuah pabrik tektil
(maksudnya tekstil)!"

Ajudan jurkam kontan berbisik: "Pak, kurang 's' nya!"

Si jurkam tanggap: "Oh ya, dan pabrik es!!!"

BEGITULAH "kaset nostalgia" diputar ulang kembali,
bahkan tanpa sentuhan baru sekalipun.

Seperti orasi dengan nada bangga dari seorang caleg yang
kebetulan eks artis: "Saya ini sudah 15 tahun jadi anggota
DPRD! Jadi, saya sudah teruji, Anda tidak perlu ragu-ragu
lagi untuk memilih saya!"

Goblok!!! Justru kita harus ragu-ragu untuk memilih dia
kembali. Bahkan, kalau bisa dia jangan dipilih lagi. Wong
dia sudah 15 tahun jadi anggota legislatif, tapi rakyat
tetap sengsara terus! Jadi, apa yang dia lakukan buat
rakyat selama 15 tahun ini? Apa kontribusi dia pada
perubahan nasib rakyat selama 15 tahun dia jadi wakil
rakyat? Iya kan?

Memang tidak semua eks artis itu pandir, tapi yang ini
kebetulan pandir yang overdosis! Saya berani tanggung
kalau saja menjadi anggota DPRD itu tanpa gaji dan
sepenuhnya pengabdian, si eks artis ini adalah orang
nomor satu yang mengundurkan diri dari keanggotaan
Dewan terhormat.

Kejadian di atas tadi menyebabkan kita harus mengubah
pepatah "pandai pangkal kaya" dengan yang baru, yaitu
"pandir pangkal kaya!"

Dan mohon pepatah "guru kencing berdiri, murid kencing
berlari!" juga kalau bisa diubah. Kenapa? Kasihan guru
laki-laki masa harus kencing jongkok!

BICARA soal pepatah, sekarang ini ada 'pepatah' dari
sebuah iklan politik, yaitu "coblos moncong putih!"

Iklan politik ini dahsyat sekali! Sukses meng-hammering
otak pemirsa televisi sampai-sampai anak pembantu saya
yang berumur tiga tahun saja setiap bangun tidur selalu
berteriak-teriak: "Ojos oncong ucih, ojos oncong ucih!"

Hebat! Saya harus ucapkan selamat kepada tim kreatif dari
biro iklan yang membuat iklan politik ini. Dibandingkan
dengan iklan politik dari partai lain yang masih mencoba
menjual soal kemiskinan, menjual soal isu ekonomi,
menjual soal isu politisi busuk, bahkan menjual agama,
iklan moncong putih ini terasa lebih efektif! Padahal, tanpa
menjual ini-itu!

Atau mungkin pada partai moncong putih ini memang sudah
tidak ada yang laik untuk bisa dijual lagi? Mungkin itu ya!

Baiklah! Saya hanya ingin menyarankan kepada partai
politik lain! Percayalah kepada saya bahwa iklan politik
"coblos moncong putih" ini sukses besar di masyarakat.
Jadi, saran saya, kalau kebetulan lambang partai Anda ada
gambar bantengnya, cepat cepat ubah dengan memutihkan
moncongnya. Atau kalau kebetulan lambang partai Anda tidak
ada gambar bantengnya, segera gambari moncong putih di
tengah-tengah lambar partai Anda, asal-asalan saja tidak
perlu artistik. Kalau bisa bikin seperti logo bibir
dowernya Rolling-Stone Mick Jagger misalnya, boleh saja,
asalkan pastikan warna moncongnya adalah PUTIH!

Berani tanggung di 5 April nanti gambar lambang ke 24
partai pasti semuanya bolong. Habis semuanya moncong
putih! Dicobloslah semuanya, seperti perintah Ibu Mega di
iklan televisi.

Pusing dong! Ya harus adil, masak yang pusing cuman KPU
doang, rakyat juga harus pusing dong!

Wednesday, June 14, 2006

Tebang Pilih SBY-JK

Golputers, coba baca cuplikan berita dibawah ini yang diambil dari Strait Times minggu lalu:

"Although Widiono has never been accused of enriching himself, police based the on an interim BPK audit, which noted a marked diffence between the price of the same type of generator available on the Internet. Mr Nasution later publicly cleared PLN after it was able to explain the discrepancy by pointing to additional costs associated with commissioning and installation, insurance and the financing of a four-year loan needed to purchase the two units.

For reasons which are not altogether clear, however, the police and the Attorney-General's Office have continued to pursue the case and Widiono and two of his executives remain behind bars. Perhaps even more puzzling is that two leading members of Indonesia's crack anti-terrorist squad have been assigned to nursemaid the investigation."

Aduh, yang beginian mah cerita lama, atuh. Golputers tentunya tahu bahwa Eddie Widiono pada saat Mega berkuasa-pun, terlebih pada saat Pilpres 2004, telah nyetor kepada SBY (ditemenin Andung Nitimihardja -red). Yang menarik, Eddie di-sel karena Sutanto tersinggung oleh Syamsir Siregar (Kepala BIN -red) yang 'ngacak-ngacak' Mabes Polri untuk nyelametin Eddie. Ironisnya, walaupun Eddie sudah nyetor ke SBY, tetapi gara-gara SBY gak bisa ngatur anak buahnya, Eddie tetap di-sel walaupun dengan cara lucu (selama dua puluh hari ditahan gak diperiksa-periksa kemudian dipasanglah penyidik anti-teroris). Hal ini tentunya menguatkan statemen GusDur bahwa SBY-JK melakukan tebang pilih. Tetapi dalam kasus Eddie lebih parah lagi. Eddie di-tebang pilih hanya untuk memuaskan nafsu kawan baik SBY, yaitu Sutanto (Kapolri -red). Aduh, setia banget sih amat kawan, jadi curiga deehhh... (ah, ente su'udzon mbak! -red).